Rust sering disebut sebagai bahasa pemrograman modern terbaik. Performance-nya mendekati C/C++, memory safety tanpa garbage collector, multi-threading aman, bahkan tooling seperti cargo juga mantap. Tapi, apakah Rust selalu jadi jawaban untuk tiap masalah pemrograman?
Jujur, berdasarkan pengalaman pribadi, Rust sebenarnya sering terasa overkill. khususnya buat project backend atau tooling kecil yang *not mission critical*. Banyak fitur powerful Rust yang justru jadi penghalang produktivitas: compile time lama, learning curve curam, serta ownership dan lifetime yang awalnya membingungkan (dan pasti sering error "borrow checker"). Seringkali, develop feature sederhana bisa lebih cepat rampung pakai Go, Python, atau bahkan Node.js.
Contoh, untuk bikin REST API atau CLI sederhana, Go bisa jadi binary kecil, cepat, dan mudah di-deploy. Python menang di ekosistem library, sedangkan Node.js unggul di prototyping. Semuanya punya trade-off, tapi learning cost-nya jauh di bawah Rust. Kecuali memang butuh control super tight atas performance dan safety, Rust lebih cocok untuk domain-domain seperti sistem low-level, embedded, atau software yang harus super reliable (misal: crypto wallet, database engine, dsb). Selain dari itu? Kadang-kadang, Anda hanya perlu tool yang "cukup bagus" dan gampang di-maintain tim.
Kesimpulannya: Rust itu keren, tapi (seringkali) overkill untuk kebanyakan kasus sehari-hari. Pilih tool yang paling sesuai masalah dan tim Anda, bukan yang paling hype. Kalau Anda ingin tantangan atau project mission critical, silakan gunakan Rust. tapi jangan buang waktu tim untuk rewrite project kecil cuma karena pengen "hipster". #pragmatis
